Khanduri Maulod di Aceh: Interaksi Islam, Modal Sosial, dan Ketahanan Tradisi Keagamaan Lokal
DOI:
https://doi.org/10.47766/almabhats.v9i2.5505Keywords:
Khanduri Maulod, Islamic interaction, local tradition, social capital, religious resilience, AcehAbstract
Abstract: This study examines how Khanduri Maulod, the Acehnese commemoration of the birth of the Prophet Muhammad, mediates the interaction between Islamic normativity and local cultural practice, and how that interaction is renegotiated under conditions of modernisation and digital mediatisation. Existing scholarship has largely documented the descriptive and normative dimensions of the tradition, yet it has rarely explained the mechanism through which religious meaning is converted into durable social capital, nor has it modelled the tradition as a stratified system. Adopting a qualitative design with a systematic library-based method, the study assembled a corpus of fifty-nine scholarly and journalistic sources published between 2016 and 2026, screened them against explicit inclusion criteria, and analysed them through thematic coding, constant comparison, and source triangulation. The analysis yields four interrelated findings. First, the normative legitimacy of the tradition rests on a bid’ah hasanah argument that reframes innovation as an instrument of religious propagation rather than a deviation from it. Second, the ritual architecture of meudikee, idang meulapeh, and meuramin functions as a moral economy that redistributes surplus toward orphans and the poor. Third, the tradition operates as a reservoir of bonding and bridging social capital that sustains inter-village solidarity across a three-month ritual calendar. Fourth, its contemporary continuity is produced not by cultural inertia but by the deliberate agency of religious scholars, customary leaders, and a digitally literate younger generation. The study contributes a Before–After reconstruction model and a four-level analytical framework normative, ritual, social, and structural-digital that together explain religious resilience as an outcome of reciprocal internalisation and expression rather than of static preservation. These findings offer a transferable analytical instrument for studying vernacular Islam elsewhere in the Muslim world.
Abstrak: Penelitian ini mengkaji cara Khanduri Maulod, tradisi masyarakat Aceh dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, memediasi interaksi antara normativitas Islam dan praktik budaya lokal, serta cara interaksi tersebut dinegosiasikan ulang di tengah modernisasi dan mediatisasi digital. Kajian terdahulu umumnya berhenti pada deskripsi prosesi dan justifikasi normatif, tetapi belum menjelaskan mekanisme konversi makna keagamaan menjadi modal sosial yang tahan lama, dan belum memodelkan tradisi ini sebagai sistem berjenjang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan sistematis: korpus dihimpun dari lima puluh sembilan sumber ilmiah dan jurnalistik terbitan 2016–2026, disaring melalui kriteria inklusi yang eksplisit, lalu dianalisis dengan pengodean tematik, perbandingan tetap, dan triangulasi sumber. Analisis menghasilkan empat temuan yang saling terkait. Pertama, legitimasi normatif tradisi bertumpu pada argumen bid’ah hasanah yang membingkai ulang inovasi sebagai instrumen syiar, bukan penyimpangan. Kedua, arsitektur ritual meudikee, idang meulapeh, dan meuramin bekerja sebagai ekonomi moral yang meredistribusi surplus kepada anak yatim dan fakir miskin. Ketiga, tradisi ini berfungsi sebagai lumbung modal sosial pengikat sekaligus penjembatan yang menopang solidaritas antargampong sepanjang kalender ritual tiga bulan. Keempat, keberlanjutannya hari ini dihasilkan bukan oleh inersia budaya, melainkan oleh agensi terencana ulama, tokoh adat, dan generasi muda yang melek digital. Penelitian ini menyumbangkan model rekonstruksi Before–After dan kerangka analitis empat level normatif, ritual, sosial, serta struktural-digital yang menjelaskan ketahanan tradisi keagamaan sebagai hasil internalisasi dan ekspresi timbal balik, bukan sebagai pelestarian yang statis. Temuan ini menawarkan instrumen analisis yang dapat dialihkan untuk mengkaji Islam vernakular di wilayah Muslim lainnya.
References
Abubakar, F. (2016). Interaksi Islam dengan budaya lokal dalam tradisi khanduri maulod pada masyarakat Aceh. Akademika: Jurnal Pemikiran Islam, 21(1), 19–34. https://e-journal.metrouniv.ac.id/akademika/article/view/453
Achmad, B. (2021). Terjemah Husnul Maqsid fi ’Amalil Maulid: Hukum merayakan maulid. Pustaka Al-Muqsith.
ANTARA News. (2025, 6 September). Sambut maulid Nabi dengan tradisi kuah beulangong kenduri di Aceh. https://www.antaranews.com/foto/5090713/sambut-maulid-nabi-dengan-tradisi-kuah-beulangong-kenduri-di-aceh
ANTARA News Aceh. (2018, 21 November). Melihat kemeriahan tradisi perayaan maulid di Aceh. https://aceh.antaranews.com/berita/50401/melihat-kemeriahan-tradisi-perayaan-maulid-di-aceh
Anshari, Z. (2018). Konsep bid’ah hasanah: Perspektif maqashid al-Syathibi dan Ibnu ’Asyur. Ilmu Ushuluddin, 17(1), 1–20. https://doi.org/10.18592/jiu.v17i1.1989
Arifin, M., & Mohd Hambali, K. (2016). Islam dan akulturasi budaya lokal di Aceh: Studi terhadap ritual rah ulei di kuburan dalam masyarakat Pidie Aceh. Jurnal Ilmiah Islam Futura, 15(2), 251–284. https://doi.org/10.22373/jiif.v15i2.545
Asad, T. (1986). The idea of an anthropology of Islam. Center for Contemporary Arab Studies, Georgetown University.
Astuti, S. (2017). Agama, budaya dan perubahan sosial perspektif pendidikan Islam di Aceh. Jurnal MUDARRISUNA: Media Kajian Pendidikan Agama Islam, 7(1), 23–42. https://doi.org/10.22373/jm.v7i1.1900
Azra, A. (2004). The origins of Islamic reformism in Southeast Asia: Networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern ulama in the seventeenth and eighteenth centuries. Allen & Unwin; KITLV Press.
Berger, P. L. (1967). The sacred canopy: Elements of a sociological theory of religion. Doubleday.
Bunt, G. R. (2018). Hashtag Islam: How cyber-Islamic environments are transforming religious authority. University of North Carolina Press.
Campbell, H. A. (2024). Looking backwards and forwards at the study of digital religion. Religious Studies Review, 50(1), 83–87. https://doi.org/10.1111/rsr.17062
Campbell, H. A., & Tsuria, R. (Eds.). (2021). Digital religion: Understanding religious practice in digital media (2nd ed.). Routledge.
Dhuhri, S. (2017). Aceh serambi Mekkah: Studi tentang peran ibadah haji dalam pengembangan peradaban Aceh. Jurnal Ilmiah Islam Futura, 16(2), 217–238. https://doi.org/10.22373/jiif.v16i2.750
Durkheim, E. (1995). The elementary forms of religious life (K. E. Fields, Terj.). Free Press. (Karya asli terbit 1912)
Evolvi, G. (2023). The sacred tech. Dalam The third spaces of digital religion (hlm. 77–91). Routledge. https://doi.org/10.4324/9781003048190-5
Fatia, D., Nurwati, R. N., & Sekarningrum, B. (2020). Tradisi maulid: Perkuat solidaritas masyarakat Aceh. Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi, 5(1), 61–72. https://doi.org/10.24198/jsg.v5i1.27096
Fitri, L., Ramdiana, & Selian, R. S. (2019). Transformasi tradisi meudikee dalam konteks masyarakat Samalanga Kabupaten Bireuen. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik, 4(2), 112–121.
Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures: Selected essays. Basic Books.
Hadari, Basri, H., & Bakar, A. A. (2023). Ukhuwah dalam Al-Qur’an: Studi tafsir tematik. Jurnal Tafsere, 11(1), 1–18. https://doi.org/10.24252/jt.v11i1.35576
Hasan, N. A. I., Wijayanti, Y., & Ratih, D. (2023). Peranan tokoh adat dalam pelestarian dan pemanfaatan potensi budaya pada masyarakat Kampung Adat Kuta Tambaksari Kabupaten Ciamis. Jurnal J-KIP, 4(2), 501–510. https://doi.org/10.25157/j-kip.v4i2.8998
Hasanah, U., Anriani, S., Budianti, S., Yolanda, W., Faqih, N., & Isro’i. (2020). Kegiatan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW sebagai sarana penguatan karakter religius remaja di Desa Gadung Kecamatan Toboali. IJoCE: Indonesian Journal of Counseling and Education, 2(1), 24–32. https://doi.org/10.32923/ijoce.v2i1.1823
Hjarvard, S. (2008). The mediatization of religion: A theory of the media as agents of religious change. Northern Lights: Film & Media Studies Yearbook, 6(1), 9–26.
Hobsbawm, E., & Ranger, T. (Ed.). (1983). The invention of tradition. Cambridge University Press.
Idris, M., & Amalia, D. R. (2022). Syariat Islam dan tradisi di Aceh Darussalam. Formosa Journal of Social Sciences, 1(1), 11–24. https://doi.org/10.55927/fjss.v1i1.457
Ishak, S., Usman, Saifuddin, & Sinambela, S. (2022). Tradisi pelaksanaan maulid Nabi di Kabupaten Pidie. Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora, 10(6), 1121–1130. https://doi.org/10.32672/jsa.v10i6.4728
Jasafat. (2022). Peran ulama dalam mengedukasi literasi klasik sebagai landasan sosial-keagamaan di pesisir utara Aceh. Islam dan Sustainable Development, 1(1), 1–16.
Kompas.com. (2023, 23 Mei). Waktu terbaik mengunjungi Aceh, bisa datang saat kenduri maulid. https://travel.kompas.com/read/2023/05/23/120900927/waktu-terbaik-mengunjungi-aceh-bisa-datang-saat-kenduri-maulid
Kompas.com. (2024, 12 September). Tradisi perayaan maulid Nabi di Aceh, berlangsung tiga bulan. https://www.kompas.com/stori/read/2024/09/12/160000979/tradisi-perayaan-maulid-nabi-di-aceh-berlangsung-tiga-bulan
Komparatif.ID. (2022, 27 Oktober). Maulid Nabi di Aceh, 3 bulan kenduri untuk rasul tercinta. https://komparatif.id/maulid-nabi-di-aceh-3-bulan-kenduri-untuk-rasul-tercinta/
Komparatif.ID. (2024, 5 November). Menyelami tradisi 100 hari maulid di Aceh. https://komparatif.id/menyelami-tradisi-100-hari-maulid-di-aceh/
Kumparan. (2022, 8 Oktober). Khanduri molod, tradisi maulid Nabi Muhammad SAW di Aceh. https://kumparan.com/mltazam/khanduri-molod-tradisi-maulid-nabi-muhammad-saw-di-aceh-1z0fn0AkpHJ
Makmur. (2019). Mencintai Rasulullah SAW dalam perspektif hadis. Jurnal Pappasang, 1(1), 1–15. https://doi.org/10.46870/jiat.v1i1.64
Manan, A. (2016). Diskursus fatwa ulama tentang perayaan Natal. MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman, 40(1), 1–20. https://doi.org/10.30821/miqot.v40i1.213
Masruri, U. N. (2018). Perayaan maulid Nabi dalam pandangan KH. Hasyim Asy’ari. Riwayah: Jurnal Studi Hadis, 4(2), 231–248. https://doi.org/10.21043/riwayah.v4i2.3596
Munawarah. (2023). Transmisi kebudayaan Islam: Interaksi dan perkembangan budaya dalam sejarah umat Islam. SKULA: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah, 3(1), 1–17. http://studentjournal.iaincurup.ac.id/index.php/skula/article/view/1036
Mustamin, K., Rahman, M. G., & Salim, A. (2021). Tradisi maulid pada masyarakat Muslim Gorontalo: Pertautan tradisi lokal dan Islam. Potret Pemikiran, 25(1), 91–108. https://doi.org/10.30984/pp.v25i1.1492
Nahak, H. M. I. (2019). Upaya melestarikan budaya Indonesia di era globalisasi. Jurnal Sosiologi Nusantara, 5(1), 65–76. https://doi.org/10.33369/jsn.5.1.65-76
Najiha, R. (2025). Agama dan kemajuan teknologi digital: Digital religion dan media sosial. Mozaic: Islamic Studies Journal, 4(2), 1–14. https://doi.org/10.35719/mozaic.v4i02.2299
Nasrudin. (2020). Perayaan maulid Nabi Muhammad SAW memang bid’ah. Al-Wathan: Jurnal Ilmu Syariah, 1(1), 1–14.
Nasrullah, & Afif, A. R. (2021). Makna shalawat: Penafsiran surat Al-Ahzab ayat 56. Jurnal Syahadah, 9(1), 1–18. https://doi.org/10.32520/syhd.v9i1
NU Online. (2026, 10 Januari). Tradisi peringatan maulid Nabi di Aceh berlangsung selama 90 hari. https://www.nu.or.id/daerah/tradisi-peringatan-maulid-nabi-di-aceh-berlangsung-selama-90-hari-oXwdl
Nurdin, A. (2016). Integrasi agama dan budaya: Kajian tentang tradisi maulod dalam masyarakat Aceh. El-Harakah: Jurnal Budaya Islam, 18(1), 45–62. https://doi.org/10.18860/el.v18i1.3415
Nurdin, A. (2022). Fungsi dan makna tradisi reuhab pada masyarakat Gampong Kuta Aceh. Jurnal Sosiologi USK, 16(2), 1–18. https://doi.org/10.24815/jsu.v16i2.27275
Putnam, R. D. (2000). Bowling alone: The collapse and revival of American community. Simon & Schuster.
Riana, R., Ilham, I., Fasya, T. K., & Yunanda, R. (2023). Tradisi upacara peutren aneuk pada masyarakat Aceh Barat: Proses, makna dan nilai. Aceh Anthropological Journal, 7(1), 122–139. https://doi.org/10.29103/aaj.v7i1.10984
Robertson, R. (1995). Glocalization: Time-space and homogeneity-heterogeneity. Dalam M. Featherstone, S. Lash, & R. Robertson (Ed.), Global modernities (hlm. 25–44). Sage.
RRI. (2026, 1 Februari). Tradisi unik maulid Nabi Muhammad SAW bagi Aceh. https://rri.co.id/meulaboh/regional/1843806/faq.html
Ruslan, & Zainuddin, R. (2021). Membedah konsep bid’ah. Al-Mubarak: Jurnal Kajian Al-Qur’an dan Tafsir, 6(1), 1–16. https://doi.org/10.47435/al-mubarak.v6i1.611
Serambinews.com. (2024, 24 September). Ritual kenduri maulid di Aceh. https://aceh.tribunnews.com/2024/09/24/ritual-kenduri-maulid-di-aceh
Serambinews.com. (2025, 2 September). Maulid Nabi di Aceh: Tradisi, cinta rasul, dan identitas budaya yang terjaga. https://aceh.tribunnews.com/nanggroe/983997/maulid-nabi-di-aceh-tradisi-cinta-rasul-dan-identitas-budaya-yang-terjaga
Shadiqin, S. I., & Ikramatoun, S. (2022). Mawlid celebration in Aceh: Culture, religious expression, and political medium. MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman, 46(1), 122–142. https://doi.org/10.30821/miqot.v46i1.919
Snouck Hurgronje, C. (1906). The Achehnese (A. W. S. O’Sullivan, Terj.). Brill.
Suhandi, S. (2018). Agama dan interaksi sosial: Potret harmoni beragama di Wiyono Kabupaten Pesawaran. Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama, 13(2), 173–194. https://doi.org/10.24042/ajsla.v13i2.3295
Suriadi, A. (2019). Akulturasi budaya dalam tradisi maulid Nabi Muhammad di Nusantara. Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora, 17(1), 167–190. https://doi.org/10.18592/khazanah.v16i2.2324
Syahrani, A. W. (2022). Interaksi Islam dengan budaya Banjar. Cross-Border, 5(2), 981–994.
Tsaltsabilla, A., Amelia, L., Maharani, S., Cahyani, Y. A., & Purwanto, E. (2025). Ritual digital: Bagaimana media sosial mengubah perayaan tradisional. Indonesian Culture and Religion Issues, 2(3), 1–15. https://doi.org/10.47134/diksima.v2i3.208
Turner, V. (1969). The ritual process: Structure and anti-structure. Aldine.
Yunus, M. (2020). Tradisi perayaan kenduri maulid Nabi di Aceh Besar. Jurnal Adabiya, 22(2), 32–48. https://doi.org/10.22373/adabiya.v22i2.8142
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2024 Zuhra Zuhra, M. Syukri Rizki Hamdalah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.




