Seorang Preman di pasang bermain mahjong ways menang bersama kawan kawan
Malam itu, di sudut pasar yang mulai lengang, ada sosok yang biasanya ditakuti orang: seorang preman bernama Awan. Namun cerita ini tidak berjalan seperti dugaan. Bukan soal keributan, bukan pula soal memalak pedagang. Di sebuah pos ronda yang diterangi lampu kuning temaram, Awan justru duduk rapi, menatap layar ponsel, dan tertawa kecil bersama kawan-kawannya saat memainkan Mahjong Ways.
Ritme Pasar, Ritme Pergaulan, Ritme Permainan
Kalau orang luar melihat Awan, mereka mungkin langsung memberi cap. Jaket kulit, tatapan tajam, dan cara berdiri yang seperti siap menghadapi apa saja. Tapi pasar punya aturan tak tertulis: siapa pun yang bernafas di sana, cepat atau lambat akan belajar membaca suasana. Awan paham kapan harus tegas, kapan harus diam, dan kapan harus menjadi “orang biasa”.
Malam itu “shift” mereka sudah selesai. Kawan-kawan Awan—Bayu, Rendi, dan Jali—menggelar tikar tipis. Ada kopi sachet, gorengan sisa dagangan, dan obrolan yang biasanya berputar di hal remeh: motor siapa yang mogok, siapa yang dikejar deadline, dan siapa yang lagi pusing karena cicilan.
Di tengah obrolan, Bayu membuka permainan Mahjong Ways. Bukan sekadar iseng; ini sudah jadi semacam ritual pengusir kantuk. Awan yang awalnya cuma melirik, lama-lama ikut duduk mendekat. “Coba gue yang pencet,” katanya pelan, seolah tidak mau terlihat terlalu antusias.
Panggung Kecil Bernama Pos Ronda
Pos ronda itu seperti panggung kecil. Tidak ada penonton resmi, tapi atmosfernya hidup. Setiap kali simbol-simbol di layar membentuk pola yang menguntungkan, mereka serempak bersuara. Bukan teriakan berlebihan, melainkan ledakan singkat yang terasa seperti kemenangan tim futsal kampung.
Awan punya kebiasaan unik: ia tidak terburu-buru. Saat yang lain menekan cepat, ia menunggu momen, mengatur napas, lalu memilih dengan tenang. Kawan-kawannya mengejek, “Santai amat, Wan, kayak lagi negosiasi.” Awan hanya nyengir. Baginya, ketenangan adalah cara bertahan hidup—di jalanan maupun di permainan.
Ada jeda-jeda kecil di antara putaran. Mereka membahas strategi ala mereka sendiri: kapan berhenti, kapan lanjut, dan kapan menahan diri. Di situ, yang menarik bukan soal menang atau kalah semata, melainkan bagaimana mereka belajar kompak. Bahkan Rendi yang biasanya suka menyulut debat, malam itu lebih banyak mendengarkan.
Menang Bareng: Bukan Sekadar Angka
Ketika kemenangan datang, suasananya berubah. Bukan euforia yang memekakkan telinga, melainkan rasa lega yang menyebar pelan. Awan memandang layar, lalu memandang kawan-kawannya. Seperti ada sesuatu yang cair di antara mereka: rasa “kita satu tim” yang jarang muncul di lingkungan keras.
“Bagi rata aja,” kata Awan singkat. Kalimat itu sederhana, tapi dampaknya terasa. Bayu yang semula memegang ponsel, menatap Awan sejenak, seolah memastikan ia tidak salah dengar. Jali tertawa, “Nah gitu dong, preman tapi fair.”
Dalam dunia mereka, berbagi bukan hal yang otomatis. Kadang orang terlalu menjaga muka, terlalu takut terlihat lemah. Tapi malam itu berbeda. Kemenangan membuat mereka punya alasan untuk saling menghargai, tanpa perlu banyak teori tentang persahabatan.
Skema Awan: 3T, 2J, 1P
Awan menyebut caranya dengan nama yang aneh, seolah kode rahasia: 3T, 2J, 1P. Bukan rumus resmi, hanya kebiasaan yang ia bentuk sendiri. “T” adalah “tahan”—tahan emosi, tahan tangan, tahan gengsi. Ia tidak mau permainan mengendalikan suasana hatinya.
Lalu “2J”: “jeda” dan “jujur”. Jeda artinya memberi ruang di antara putaran untuk menilai situasi, bukan menuruti dorongan. Jujur artinya mengakui kapan sudah lelah, kapan mulai serakah, dan kapan lebih baik berhenti. Bagi Awan, kejujuran semacam ini jauh lebih sulit daripada terlihat garang di depan orang.
Terakhir “1P”: “pulang”. Kedengarannya lucu, tapi itu penutup yang ia anggap wajib. Setelah momen menang bersama kawan-kawan, ia memilih menyudahi sebelum suasana berubah. “Gue maunya pulang bawa cerita, bukan bawa penyesalan,” ujarnya, lalu berdiri, merapikan jaket, dan menepuk bahu Bayu.
Potret yang Jarang Terlihat dari Seorang Preman
Orang sering membayangkan preman sebagai sosok yang hanya hidup dari konflik. Padahal, ada sisi lain yang jarang terlihat: kebutuhan untuk diterima, kebutuhan untuk punya lingkaran yang tidak menghakimi, dan kebutuhan untuk merasa menang tanpa harus menjatuhkan orang lain.
Di pos ronda itu, Awan tidak sedang membangun citra. Ia hanya menikmati malam yang tenang, kopi yang terlalu manis, dan tawa yang tidak dipaksakan. Mahjong Ways menjadi alasan mereka berkumpul, tapi yang membuatnya berkesan adalah suasana: solidaritas kecil yang tumbuh dari hal sederhana, lalu menempel di ingatan seperti bau pasar setelah hujan.
Saat lampu pos ronda berkedip, mereka merapikan tikar dan memungut bungkus gorengan. Awan berjalan paling belakang, memastikan tidak ada yang tertinggal. Di ujung gang, ia sempat menoleh, melihat kawan-kawannya masih tertawa pelan, lalu menghilang di tikungan dengan langkah yang lebih ringan dari biasanya.
Home
Bookmark
Bagikan
About
Chat